Our social:

Latest Post

Minggu, Juni 08, 2008

HACK SITUS DEPKOMINFO

Masih Tentang Hack Situs Depkominfo dan UU ITE

Masih tentang kelanjutan peristiwa dihacknya situs Depkominfo kemarin malam, Detikinet baru aja memberitakan konfirmasi dari Roy Suryo tentang tampangnya yang nangkring bugil di situs Depkominfo.

roy_suryo_on_hacking_situs_depkominfo.jpg

Siapa ‘mereka’ yang dimaksud Roy? “Kelompok blogger dan hacker yang selalu bertindak negatif adalah pelakunya. Hal ini membuktikan, yang namanya blogger dan hacker Indonesia belum bisa mencerminkan citra positif,” tegas Roy kepada detikINET, Kamis (27/3/2008).

“Saya gak mau terpancing, hacker dan blogger gak pernah saya anggap. Paling saya akan ada di belakang Kominfo, tunggu saja action saya,” lanjutnya, tanpa menyebut langkah yang bakal diambilnya lebih lanjut.

“Banyak sekali milis (mailing list) dan blog yang menyuarakan tidak setuju, dan (reaksi) itu terjadi,” tukasnya.

Setelah membaca berita diatas, gw terdiam. Gw bener-bener emosi dan rasanya gw pengen terbang ke tempat Roy Suryo berada dan mempertanyakan argumen tololnya. Tapi yah, saatnya kita dewasa. Mari kita review komentarnya. ;;)

Tentang ketidaksetujuan blogger dan hacker (ambiguitas yang sangat jelas disini, membandingkan blogger dengan hacker) akan UU ITE, rasanya sangaat wajar. Karena Indonesia adalah negara demokrasi. Dan demokrasi menyerahkan segala pilihan hidup kepada rakyat dari suatu negara, dan menjadikan hidup sebagai pilihan, bukan paksaan atau larangan. Disini, yang saya permasalahkan adalah bukan diblokirnya situs porno. Saya masih bisa hidup tanpa itu. Dan saya yakin hampir semua orang begitu. Yang jadi masalah adalah saat negara mulai memilih hiburan apa yang cocok atau tidak cocok untuk rakyatnya. Disini sendi-sendi demokrasi mulai terluka, parah. Karena yang saya tahu, hanya pemerintah komunis dan pemerintah negara Islam yang aktif menyeleksi hiburan untuk warganya, apalagi di internet. Sebagai contoh, China, Cuba, Burma, Arab Saudi, Iran, dan Mesir adalah beberapa negara yang menyensor konten internet di negaranya. Tentunya ini menjadi suatu pertanyaan, apakah ideologi negara kita sudah berubah menjadi Komunisme atau Agamisme?

Selanjutnya, argumen bahwa internet adalah ruang publik menjadi lelucon yang sangat garing untuk dibicarakan. Mengapa? Karena internet bukanlah ruang terbuka yang bisa dilihat tanpa menggunakan media perantara. Ia harus melewati jendela kecil bernama monitor, sebagai satu bagian dari komputer. Dan saat komputer berada di kamar-kamar pribadi individu, maka ia tidak lagi menjadi ruang publik. Ia adalah ruang privat. Sementara internet yang disediakan di warnet, baru bisa diklasifikasikan sebagai ruang publik. Dan dengan memblokir salah satu jenis konten di internet kepada semua penggunanya, adalah sama saja pemerintah melanggar ruang privat warganya. Kecuali, Undang-Undang yang berlaku membedakan warnet dan komputer pribadi. Ini tentu lebih beradab dan lebih berasaskan demokrasi.

Ketiga, kembali topik lama yang sebenarnya saya sudah capek membahasnya. Komter Roy Suryo yang sangat ambigu, karena menyamaratakan Blogger dengan Hacker. Jelas sangat berbeda. Dan apa yang dikeluarkan dari mulut Roy Suryo di media massa hanya akan membodohi orang-orang yang tidak mengerti apa itu blogging dan siapa itu blogger. Tentunya kita tidak mau besok-besok rumah kita dibakar FPI karena kita blogger kan? Oke, mari kita bandingkan blogger dengan hacker.

Hacker, dalam definisi terdasarnya, adalah seseorang yang menerobos masuk ke dalam jaringan atau suatu sistem elektronik. Konotasinya bisa negatif atau positif. Ada yang disebut white hacker, yang berarti ia menjadi hacker untuk melindungi jaringan atau sistem elektronik yang lemah pertahanannya dari black hacker. Black hacker, adalah berlawanan dari white hacker. Sementara definisi lainnya dari hacker adalah seorang computer freak, seperti sayah. :p

Sementara Blogger, jelas sangat berbeda dengan hacker. Blogger adalah seseorang yang melakukan aktivitas yang disebut blogging, yang berarti menaruh atau memampang tulisan di Internet. Isi tulisannya, terserah si blogger. Dan ini, kembali lagi adalah salah satu esens dari demokrasi, yang menghormati setiap pilihan individu. Jadi sebuah pertanyaan apabila karena satu blog menampilkan tulisan negatif, lalu semua blog menjadi negatif? Kok seperti orde baru saja. Jadi sebenarnya Roy Suryo yang bilang blogger itu negatif itu sebenarnya berkomentar atas dasar apa?

Jangan tanya saya, tanya dia.